Menuju Generasi Sarjana Entrepreneur

oleh Arrony Qisthy, FH UNPAS (Contract Drafter & Ast. Advocate)

Sudah banyak upaya dalam mengatasi atau mencegah pengangguran bagi kalangan terdidik, terutama para sarjana, salah satunya adalah dengan mempersiapkan secara serius terhadap generasi sarjana untuk menjadi entrepreneur (wirausahawan) yang handal. Namun untuk menjadi seorang entrepreneur yang handal, tidaklah mudah. Hanya orang yang mampu mengubah dirinya untuk berpikir kreatif, kritis dan inovatif yang akan berhasil mencapai kemandirian dalam bidang ekonomi.

Pendidikan kewirausahaan di Indonesia dirasa masih kurang memperoleh perhatian, baik oleh dunia pendidikan maupun masyarakat. Banyak pendidik yang kurang memperhatikan penumbuhan sikap dan perilaku kewirausahaan sasaran didiknya. Kebanyakan orientasi mereka hanya pada menyiapkan tenaga kerja. Proses pembelajaran dalam setiap jenjang pendidikan seharusnya diarahkan kepada pemanfaatan pengetahuan dan kemampuan untuk bekal hidup sasaran didik di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang semakin kompetitif. Untuk itu proses pembelajaran harus memperhatikan keseimbangan faktor bawaan (minat, motivasi, bakat) dan faktor lingkungan (masyarakat dan pendidikan).

Keselarasan antara potensi bawaan dan lingkungan akan dapat membawa pencapaian tujuan pembelajaran seperti yang diharapkan oleh generasi muda. Di sinilah dibutuhkannya peran pengajar (dosen/guru) sebagai fasilitator, inovator, motivator bagi belajar siswa, maka proses belajar individual menjadi sangat penting dengan memilih metode pembelajaran yang mengarah pada penemuan kemampuan dan keterampilan sesuai dengan keinginan, minat, motivasi, dan bakat peserta didiknya. Selain itu, diharapkan proses pembelajaran tidak lagi berorientasi hanya kepada kebijakan instansi pendidikan yang terkadang tidak sejalan dengan perkembangan kebutuhan sumber daya manusia dewasa ini. Penekanan evaluasi pada sikap dan keterampilan intelektual siswa, serta tidak lagi kepada pengetahuan teoritis yang berlebih dan terkesan kaku. Pengumpulan pengetahuan teoritis yang berlebih tanpa disertai praktik di lapangan, merupakan pekerjaan yang kurang optimal. Disarankan perlu adanya perubahan yang mendasar dari visi dan misi pendidikan nasional untuk mengubah model dan sistem pembelajaran, dengan tidak beroerientasi kepada pembentukan jalan pikir sebagai ‘tukangnya orang lain’, tetapi harus lebih dari itu, yakni menumbuhkan wirausahawan yang tangguh.

Untuk menjadi entrepreneur, tentu berbeda dengan apabila ingin menjadi pegawai kantoran yang sebagian besar mengandalkan pada hard skill-nya, namun juga pada kemampuan soft skill dan attitude yang baik. Karena yang membedakan entrepreneur dengan yang bukan entrepreneur adalah tingkah lakunya dalam merespons lingkungan di sekitarnya. Selain itu, seorang wirausahawan tersebut harus mempunyai pola pikir, keinginan dan kemampuan untuk menjadi seorang entrepreneur yang tangguh. Bukan malah menjadi orang yang tidak pernah berpikir untuk mandiri, kreatif, kritis dan inovatif bahkan menjadi orang yang berpandangan bahwa untuk menjadi seorang pengusaha sukses adalah harus dengan bermodal besar. Dan satu lagi yang perlu diubah dari pandangan mayoritas orang, bahwa entrepreneur atau wirausaha tidak selalu identik dengan berdagang, namun lebih dari pada itu.

Jiwa kewirausahaan sebaiknya sudah harus menjadi bagian dari tujuan prioritas dalam kurikulum pendidikan di Perguruan tinggi (PT). Terjadinya kontradiksi antara kesempatan kerja dengan jumlah angkatan kerja yang membengkak tiap tahun, perlu upaya serius dari dunia pendidikan, terutama PT, untuk ikut membekali para mahasiswanya dengan pendidikan kewirausahaan, seperti dengan mengajarkan mahasiswa untuk mencoba membuka usaha mikro, kecil dan menengah. Apalagi setelah diundangkannya UU NO.20 TAHUN 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah., maka pemberdayaan usaha-usaha tersebut mulai mendapatkan pemihakan, kepastian, kesempatan, perlindungan, dan dukungan berusaha yang seluas-luasnya. Dengan demikian, dapat membantu mewujudkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan peningkatan pendapatan rakyat, penciptaan lapangan kerja, dan pengentasan kemiskinan.

Jika para sarjana memiliki sikap dan mental kemandirian yang ditumbuhkan melalui pendidikan kewirausahaan, maka kekhawatiran akan meningkatnya jumlah pengangguran dari kalangan fresh graduate cepat atau lambat akan berkurang bahkan hilang begitu saja. Sebab, dengan tingkat pendidikan yang memadai seharusnya sarjana menjadi ujung tombak dalam mengatasi permasalahan pengangguran. Paling tidak, para sarjana dapat mengubah pola pikirnya, bahwa menjadi sarjana bukan berarti siap menjadi tenaga kerja semata, namun juga siap untuk menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri dan orang lain. Terakhir yang perlu kita pahami bersama, bahwa menjalani pekerjaan terhormat tidak hanya menjadi pegawai dan atau PNS. Namun bukan berarti menjadi pegawai dan/atau PNS tidak memiliki mental kemandirian dan daya saing. Karena yang terpenting disini adalah hasil usaha kerjanya sendiri, tanpa meminta pada orang lain. Ingatlah pada sabda Rosululloh SAW dalam suatu hadist bahwa “Sesungguhnya sebaik-baiknya sesuatu yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah dari hasil kerjanya sendiri”.

Demikianlah sekilas pemaparan mengenai entrepreneur bagi kalangan sarjana, sebuah tulisan sederhana yang dikembangkan dari catatan kecil penulis dan beberapa bahan pustaka yang penulis dapatkan serta sebuah inspirasi yang tumbuh dari suatu event generasi muda Bandung bernama ‘Young Entrepreneur Expo (YEE)’ yang digelar pada tanggal 16 Mei 2010 lalu di PT.DI. Bandung. Semoga bermanfaat bagi pembaca. Mohon maaf atas segala kekurangannya, terimakasih. Alhamdulillahi jazaa kumullohu khoiro.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s