Generasi Mandiri

CAI – Cinta Ama Ibu-Bapak

Oleh Muda-mudi dari DKM Nashrulloh, Lembang.


2634176656_745786fca5_bMy Generous yang kami hormati,

Rekan remaja yang kami banggakan,

Coba ajak bicara hati kita,

“  Hai hati…Berbahagialah.

Sebab Ibu-Bapak masih menyayangi kita.

Silakan cari kasih sayang yang bisa mengalahkan mereka,

Apa ada? ”

Jawabnya NO! Tidak pernah ada.

Bukti di depan mata; sejak bayi kita dijaga, dipeluk, dicium, dibelai, dimanja, disayang, bahkan pipis diceboki. Kurang apa lagi sayangnya Ibu-Bapak pada kita? Kurang apa lagi pengorbanan Ibu-Bapak pada kita? Insya Allah yang mau sekolah, disekolahkan. Insya Allah yang Ibu-Bapaknya mapan mau kuliah, dikuliahkan. Kadang pulang-pergi antar-jemput, dikasih jajan pula.

Kita harus ingat! Sebuas-buasnya Macan tidak akan tega memangsa anaknya sendiri. Secerewet-cerewetnya, sebawel-bawelnya Ibu-Bapak tidak akan tega melihat masa depan kita suram. Ibu-Bapak sering mengomel, marah-marah, justru itulah bukti sayangnya mereka pada kita. Coba kalau kita dicuekin, sudah tidak diperhatikan, masa bodoh mau jadi penjahat, mau jadi gembel, mau jungkir balik, tidak peduli! NA’UDZU BILLAHI MIN DZALIK. Kalau Ibu-Bapak sudah mengeluarkan kalimat itu, pasti celaka yang akan kita temui, pasti malapetaka yang akan kita jumpai. Kita tentu tidak mau jadi Malin Kundang ke-2.

Kita buka mata, buka hati. Kita amati teman-teman di sekeliling kita. Ada yang kecanduan narkoba, ada yang siang-malam kerjanya mabuk-mabukan, ada yang luntang-lantung, sekolah tidak, kulaih tidak, kerja juga tidak, malah keluar-masuk penjara. Yang lebih parah lagi (maaf), statusnya mahasiswi tapi julukannya “kupu-kupu malam”. Sambil mengelus dada, Alhamdulillah kita tidak begitu. Maka dari itu, sama-sama kita berusaha jangan sampai status kita pelajar tapi terjaring sindikat obat-obat terlarang, jadi morfinis. NA’UDZU BILLAHI MIN DZALIK.

Camkan di hati kita masing-masing, mau pacaran berarti mau sakit hati. Dari pada sakit hati lebih baik TTA (Teman Tapi Akrab).

Kita harus pahami bahwa predikat, gelar, pangkat, dan title yang kita miliki adalah ORANG IMAN. Sebuah anugerah penghormatan yang tidak ternilai harganya, sebab yang memberi adalah Allah Sang Pencipta. Oleh karena itu, Hukum Qur’an-Hadits di atas dunia harus ditegakkan, juga karena sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Lagi pula, Qur’an-Hadits tidak mendoktrin atau mendidik kita untuk pacaran, betul tidak? Cinta sejati baru bisa kita nikmati setelah menikah. Silakan buktikan pada Ibu-Bapak kita. Sama-sama kita hindari apa kata pujangga, “Kalaulah tidak karena cinta, tidaklah berlinang air mata di pipi.” Maka kita jangan menjadi Romeo & Juliet ke-2. Rela berkorban hanya karena kenikmatan sesaat, mati konyol, sia-sia, percuma, tidak berguna. Tidak menghasilkan benih cinta, tidak menghasilkan buah hati. Padahal, buah hati adalah bagian dari kebahagiaan.

Kasihan ‘kan Manohara; jadi permaisuri, hidup di istana, tapi merasakan neraka. Aneh tapi nyata. Lady Diana juga permaisuri; awalnya bahagia, malah berakhir duka, gara-gara skandal cinta segitiga. Tanya kenapa? Semua karena cinta.

Sama-sama kita camkan, bahwa perjalanan hidup kita masih panjang. Target dan cita-cita kita banyak yang belum tercapai. Yang penting Ibu-Bapak masih sayang kita, insya Allah urusan cinta bisa kita atur. “Aku bukanlah Superman, aku juga bisa nangis jika kekasih hatiku pergi meninggalkan aku.” Kita jangan menangis karena cinta, tetapi menangislah jika Ibu-Bapak sudah membenci kita. Maka kita harus berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan lagi. Kita harus yakin, “Dunia belum berakhir, jika hanya karena kita tidak punya pacar.” Betul tidak?

Kesimpulannya,

Bukan tidak mungkin kalau Bule Cijeruk mengatakan, “There is only one happiness in life, to love and be loved.” Hanya satu kebahagiaan dalam hidup, yaitu untuk mencintai dan dicintai. Maka, kita sama-sama berusaha sekeras mungkin untuk menyikapi, merealisasikan, sekaligus membuktikan dengan tindakan kita terhadap syairnya Ello, “Walaupun ku sendiri, tapi ku masih bisa bahagia.”

Sekian,

Kami dari Cibogo Crew beserta seluruh kerabat undur diri. Salam-salam untuk semua teman-teman.

(nn) 0709.

One thought on “Generasi Mandiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s