Generasi Mandiri

Mandiri dalam Berjuang

Perang MUT’AH di Negeri Syam pecah pada Bulan Jumadil Awal Tahun 8 Hijriyah. Jumlah orang iman yang maju saat itu adalah 3000 orang. Untuk perang ini Nabi tidak bisa ikut dan harus tinggal di Mekkah, sehingga sebelum berangkat diadakan musyawarah terlebih dahulu yang memutuskan bahwa yang akan memegang bendera perang (sebagai panglima) adalah Zaid Ibni Haritsah. Jika ternyata Zaid gugur, maka yang menggantikan posisinya adalah Ja’far. Dan jika Ja’far gugur pula maka yang menggantikannya adalah ‘Abdulloh Ibnu Rowahah. Cukup tiga orang tersebut.

Saat perang berlangsung, ternyata benar terjadi adanya Zaid gugur, yang kemudian Ja’far naik menggantikannya. Berikutnya Ja’far pun gugur, lalu ‘Abdulloh naik menggantikannya. Sebagai orang terakhir yang harus memegang bendera, sesuai apa yang telah dimusyawarohkan, ‘Abdulloh dengan sekuat tenaga mempertahankan bendera perang. Awalnya ia memegang bendera di tangan kanan, ternayata kemudian tangan kanannya kena ditebas musuh. Ia pun memindahkan bendera ke tangan kiri. Kemudian tangan itu pun jatuh ditebas musuh pula. Tanpa kehilangan akal ia memindahkan bendera perangnya ke kaki kanan. Tapi ternyata nasibnya sama, kaki kanan pun hilang ditebas musuh. Masih belum menyerah, ia memindahkan bendera ke kaki kirinya. Malangnya, kaki kiri sebagai anggota tubuh ‘Abdulloh yang tersisa untuk mencengkram bendera pun kena tebas musuh juga. Hilangnya anggota tubuh terakhir itu bersamaan pula dengan hilangnya nyawa ‘Abdulloh Ibnu Rowahah Sang Pemegang Bendera Terakhir berdasarkan apa yang pernah dimusyawarohkan sebelum perang ini.

Nabi Muhammad yang sedang berada di Mekkah pun serta-merta didatangi oleh Malaikat Jibril, dikabari bahwa tiga orang panglimanya telah tiada. Mendengar kabar duka tersebut, Nabi hanya bisa diam dan menitikkan air mata. Tanpa berlarut-larut, beliau segera mengajak sahabat-sahabatnya yang ada di Mekkah untuk bersama melaksanakan Sholat Ghoib.

Namun diluar dugaan, Allah ternyata sedang tidak mengqodar kekalahan bagi orang iman. Tiga orang yang ditunjuk telah meninggal, lantas siapa yang harus meneruskan memimpin perang ini? Pasukan orang iman yang tersisa kemudian bermusyawarah seketika itu juga, dan ditunjuklah Kholid Ibnu Walid. Sebelum sempat bendera perang pasukan orang iman hancur dan diinjak-injak oleh musuh, Khalid meraih dan mengusungnya dengan semangat membara, memimpin pasukan untuk kembali menyerang orang kafir. Dan dengan pertolongan Allah akhirnya pasukan orang iman pun berhasil mengakhiri perang tersebut dengan kemenangan.

Dari kisah tersebut, salah satu hikmah yang bisa kita ambil adalah betapa tingginya semangat perjuangan sahabat-sahabat Nabi terdahulu. Tidak menyerah saat tangan terpotong, bahkan terus melanjutkan perjuangan hingga semua annggota tubuh bahkan nyawa akhirnya hilang. Masa sekarang ini memang bukan waktunya untuk membawa bendera dan maju ke medan perang, namun semangat yang bisa terapkan adalah dalam mempertahankan hidayah Allah dari pengaruh zaman, dalam wujud giat mencari ilmu, berakhlaqul karimah, dan tentunya membangun kemandirian. Guna menjadi generasi penerus yang siap melanjutkan dan melestarikan perjuangan Qur’an-Hadits.

(red) 0509, Sumber: HR.Bukhori Juz 2 Kitabul Janaiz.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s